
Kalau saya ditanya film apa yang bikin kamu menyesal nontonnya tahun ini, mungkin saya akan dengan gamblang menjawab “Karate Kid Legends”. Padahal film ini didistribusikan oleh Sony Pictures dan Columbia Pictures, tapi yaahh ternyata tidak menjamin juga film ini akan bagus. Memang menyandang nama Karate Kid itu sulit, ekspektasi penggemar dan kecintaan mereka terhadap franchise film ini sangatlah tinggi. Karena itu ketika film ini dirilis, semua orang dan mungkin termasuk saya berharap film ini bisa sebaik film pendahulunya.
Sayangnya tidak begitu. Mulai dari awal hingga akhir film, saya sama sekali tidak merasakan apa yang saya harapkan. Akting yang hambar dari Ben Wang sebagai Li Fong membuat film ini makin tidak berwarna. Memang Karate Kid sudah punya format ceritanya sendiri, seorang anak yang baru pindah dan harus berbaur dengan lingkungan barunya. Ia bertemu tantangan baru, bertumbuh dan memenangkannya. Tentu saja pada bagian awal film diperlihatkan bagaimana tokoh utama masih gagap menghadapi suasana baru tersebut. Tapi saya tidak melihat itu pada Li Fong. Terlepas dari dia sudah lancar berbahasa Inggris tapi ayolah apakah seseorang dapat dalam sekejap berbaur dan menerima lingkungan baru?

Terus terang saat saya menonton film ini, saya jadi teringat Cocomelon. Anda tahu cocomelon? Ya, Cocomelon adalah tayangan untuk anak-anak yang menampilkan nyanyian-nyanyian dengan video klip penuh warna-warni yang dibuat begitu terang dan mencolok dengan fase adegan yang begitu cepat. Sudah menjadi ciri khas Cocomelon untuk meng-cut lalu mengganti frame gamber dalam hitungan detik saja yang dimaksudkan agar anak-anak tetap terpaku menatap layar. Hal demikian sebenarnya dalam jangka panjang sangat tidak baik buat anak karena dapat mengganggu konsentrasi anak. Nah, demikianlah juga fase dalam film ini, sangat cepat dan tidak berisi.
Fase yang cepat dengan cut adegan yang cepat pula membuat cerita sama sekali tidak berasa. Saya tidak merasakan koneksi yang dalam antara Li Fong dengan ibunya. Saya tidak merasakan koneksi kuat antara trauma Li Fong dengan kehidupannya. Saya juga tidak bisa merasakan kenapa Li Fong adalah murid kesayangannya Mr Han. Apakah karena kakaknya atau karena dia memang berbakat tidak begitu dijelaskan. Kesemuanya itu gagal membangun cerita secara keseluruhan. Bahkan pada saat bagian akhir ketika ibunya datang menonton turnamen dan ia menang, saya sama sekali tidak merasa puas dan tidak memiliki pengalaman yang mendalam akan cerita yang sudah saya tonton. Padahal pada dua film pendahulunya, momen terbaiknya adalah ketika Daniel Larusso dan Dre Parker berhasil memenangkan turnamen setelah menghadapi begitu banyak tantangan.

Lagipula pada dua film pendahulunya terlihat sekali bagaimana fase film lebih lambat dan bagaimana koneksi terbangun dengan baik antara Daniel Larusso dengan Mr. Miyagi dan Dre Parker dengan Mr. Han. Saya tidak tahu apa penyebabnya, apakah film ketiga ini bermaksud mengambil sudut pandang yang berbeda dari format cerita Karate Kid atau mungkin mencoba menyesuaikan dengan generasi baru yang belum tahu Karate Kid. Yang jelas sangat disayangkan film ini tidak sebagus film sebelumnya. Bahkan kehadiran Jackie Chan sebagai Mr. Han dan Ralph Maccio sebagai Daniel Larusso tidak dapat menyelamatkan film ini. Yang ada para penonton film ini hanyalah orang-orang yang terjebak nostalgia yang ingin menyaksikan Mr Han dan Daniel Larusso seperti saya hehehe.
Jika saya ditanya berapa rating film ini, saya dapat dengan lantang mengatakan 4 dari 10. Kenapa? Sebab Karate Kid bagi saya adalah sebuah film yang mengisahkan petualangan dan pertumbuhan seseorang menjadi versi terbaiknya. Daniel Larusso yang semula tidak sabaran menjadi lebih peka dan bersabar. Dre Parker yang semula ceroboh dan tidak disiplin menjadi pribadi yang lebih bijak dan bisa mengendalikan diri. Kesemuanya dibungkus dengan baik dalam satu cerita dan ditutup dengan kemenangan epiknya masing-masing. Itulah alasan mengapa film Karate Kid bagi saya adalah salah satu film yang sangat layak untuk dinikmati.

Lalu bagaimana dengan Karate Kid Legends? Well, sejujurnya sangat sangat jauh jika dibandingkan dengan dua film tersebut. Petualangan yang begitu hambar dan tidak terjalinnya cerita dengan baik membuat saya sama sekali tidak dapat menikmati bagaimana seorang Li Fong bertumbuh dan menghadapi tantangan hidupnya.
So, that’s it! Menurut kamu bagaimana?


